Yoshinori Ohsumi, Kisah Romantis Sang Peraih Nobel



       Ini adalah pertama kali bagia pasangan suami istri yang sudah gaek berada di depan 30 wartawan untuk bicara mengenai perasaan mereka setelah mendapatkan penghargaan nobel. Ohsumi hanya tidur 3 jam, sementara istrinya tidur 2 jam, saking gugupnya menghadapi sinar kamera. “Sampai detik ini, saya masih tidak percaya bahwa saya berhasil meraih nobel. Mungkin nanti kalau sampai di rumah, sambil minum-minum kopi, baru saya bisa merasakannya,” ujar Ohsumi disambut derai tawa wartawan. Menurut istrinya, Yoshinori adalah termasuk suami yang usil. Ia sering menggoda istrinya dan membuat istrinya kesal.
      Keberhasilan  Ohsumi menyisihkan para pesaing lain dari seluruh dunia karena ia berhasil mengungkap misteri “autophagy,” yaitu proses dimana sel tubuh hewan dan tumbuhan menyingkirkan protein yang rusak atau mati dan menggantinya menjadi struktur sel yang baru.
Para peneliti di bidang ini berharap, penemuan Ohsumi ini dapat membuka misteri lainnya di di bidang kesehatan. Sehingga penemuan dalam pengobatan kanker, Parkinson dan Alzheimer bisa lebih ditemukan titik terang.
      “Terima kasih kepada Yoshinori Ohsumi dan peneliti lain di bidang ini, kita tahu bidang autophagy adalah bidang yang penting untuk mengendalikan fungsi fisiologis dimana sel-sel tubuh butuh untuk diperbarui dan ditingkatkan,” tulis komite Nobel dalam pengantarnya. Yang menarik dari penelitian Ohsumi, awal ia meneliti ini adalah lewat ragi. Ketika ragi kehilangan kandungannya, maka ragi mulai meningkatkan protein dengan sendirinya, Fenomena ini mulai diteliti Ohsumi pada tahun 1988, melalui mikroskop optik. Saat konfrensi pers tersebut, Ohsumi mengatakan, bahwa  ia tidak pernah membayangkan penelitiannya dari ragi bisa bercabang hingga sebesar ini. Namun ia tidka meragukan pentingnya studi sains dasar. “Keyakinan adalah kunci yang membawa pada kemajuan besar dalam bidang sains,” ujarnya. 


       Ohsumi melanjutkan bahwa saat ia memulai studinya, ia tidak yakin penemuan ini bisa membawa pada pengobatan kanker. “Saya ingin menggariskan satu hal, saat memulai penelitian ini, saya tidak yakin penelitian ini bisa berkembang ke arah pengobatan kanker dan usaha untuk memperpanjang hidup manusia. Saya hanya ingin mencari jawaban akan pertanyaan-pertanyaan saya selama ini.” Ohsumi berharap, banyak masyarakat yang tertarik dan belajar mengenadi dasar-dasar sains, sehinga penelitian seperti ini banyak dikembangkan. Ohsumi juga menyampaikan bahwa saat ini, peneliti di Jepang seperti diburu-buru untuk mendapatkan hasil yang cepat untuk tujuan tertentu, misalnya dalam bidang pengobatan praktis. Namun bagi peneliti sains dasar, hasil penelitian belum tentu bisa diaplikasikan dalam kurun waktu 10 sampai 100 tahun. “Ilmu pengetahuan juga memiliki hak, tidak hanya untuk kebutuhan praktis saja,” tambahnya. Jika peneliti terlalu dipaksa untuk memenuhi kebutuhan praktis, maka ilmu pengetahuan akan kembali punah. “Ilmu dasar sains akan mengalami kepunahan,” ujar Ohsumi.
        Ohsumi berterima kaish kepada pemerintah yang selama ini telah mendukung risetnya. Namun kalau ditotal secara keseluruhan, alokasi dana tersebut tidak akan cukup. “Saya mengalami masa-masa sulit. Ilmu pengetahuan di Jepang bisa hilang, kecuali didukung oleh sistem yang kuat sehingga para peneliti muda di Jepang bisa bekerja untuk jangka panjang,” ujarnya. Dan saat-saat masa sulit itu, Ohsumi selalu ditemani istrinya. Jika istrinya lebih sedikit tidur ketimbang Ohsumi, itu wajar saja. Karena tugas istrinya sangat besar, menjaga aset ilmu pengetahuan dunia. 

Selamat kepada Ohsumi dan istri, kepada Jepang dan kepada dunia.
Sumber info dan foto: Reiji Yoshida, japantimes.co.jp

Subscribe to receive free email updates:

0 Response to "Yoshinori Ohsumi, Kisah Romantis Sang Peraih Nobel"

Post a Comment